Rabu, 06 Februari 2008

BENIH UNTUK POHON YANG RINDANG

kami ingin berbagi sebuah cerita yang sangat menarik. Kami yakin
 cerita ini akan memberikan suatu perenungan kepada kita.
 
===========================
 
BENIH
 
Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang. Dibawahnya, tampak dua orang
 yang sedang beristirahat. Rupanya, ada seorang pedagang bersama anaknya
 yang berteduh disana. Tampaknya mereka kelelahan sehabis berdagang di kota.
 Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon yang besar
 itu. 
 
Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian
 dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya..." terdengar suara
 yang mengusik ambang sadar si pedagang.  
 
"Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa
 dagangan kita ke kota?" 
 
"Sepertinya", lanjut sang bocah, "Aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping
 seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir,
 aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini."
  Jari tangannya tampak mengores-gores sesuatu di atas tanah. Lalu, ia
 kembali melanjutkan, "Bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah? 
 
Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah
 benih, di atas tanah yang sebelumnya di kais-kais oleh anaknya. Diangkatnya
 benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang
 yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang
  besar-besar. Kemudian, ia pun mulai berbicara. 
 
"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar
 tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu
 berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga
 berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga
 dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah,
 sulur-sulur akarnya  yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama. 
 
Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah Nak,
 benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan
 yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi
 sebesar pohon ini, ia 
hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan
 lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih
 ini berterima kasih, karena telah melatihnya menjadi mahluk yang sabar."
 "Suatu saat nanti, kamu akan besar Nak. Jangan pernah takut untuk berharap
 menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan
 kesabaran." 
 
Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri,
 meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian
 dalam benak. 
 
Tak lama berselang, keduanya pun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah
 mereka setelah seharian bekerja. 
 
===========================
 
Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih
 dengan ketidaksempurnaan. Karena Tuhan, menciptakan kita penuh dengan
 keistimewaan. Dan karena Tuhan, memang menyiapkan kita menjadi mahluk dengan
 berbagai kelebihan. Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak
 mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering
 bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian,
 harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering
 membayangkan, bilakah saatnya berhasil?  Kapankah saat itu akan datang? 
 
Teman, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua
 kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang
 lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam  itu berasal.
 Namun, akankah Tuhan 
membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin,
 derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari? 
 
Begitupun kita, akankah Tuhan membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses,
 tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan?  
 
Akankah Tuhan lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin "masalah",
 derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan"?  
 
Tidak Teman. Karena Tuhan Maha Tahu, bahwa setiap hambaNya akan menemukan
 jalan keberhasilan, maka Tuhan tak akan pernah lupa dengan itu semua.
 Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada
 dalam dirimu.

Tidak ada komentar: